Tidak Semuanya Harus Masuk Akal

Ach. Dhofir Zuhry
Ach. Dhofir Zuhry

MADURATIMES, MALANG –  

"Selalu yang terjadi yang terbaik dan ada maksud baik, terima dengan indah dan gembira!"

NYARIS selalu kegagalan hidup berawal dari kegagalan memaknai hidup, dan kegagalan memaknai hidup sangat ditentukan oleh cara pandang dan mind set manusia sendiri. 

Tak jarang, orang yang yang justru berpendidikan, justru bingung memaknai hadirnya di muka bumi. Kita dapat saksikan bukti konkretnya dengan bertanya-tanya mengapa banyak sakali sarjana menganggur?

Ya, semua berawal dari cara pandang dan paradigma yang dibangun oleh seseorang sejak ia sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang berpikir. Sangat boleh jadi belasan juta sarjana yang menganggur itu terlalu "gengsi" kepada gelarnya untuk bekerja dan memaknai kerja sebagai sebuah proses, mereka hanya menunggu "didatangi" oleh rizki dan bukan "menjemputnya".
  
Merasionalisasi segala hal dalam hidup ini tentu tidak salah, sebab Tuhan sendiri memberlakukan hukum kausalitas, hukum sebab-akibat bagi semua penduduk bumi ini.

Akan tetapi, di sisi lain, hamparan hidup ini terlalu luas jika semuanya harus dinalar dan menjadikan rasio sebagai standar ukuran dari segalanya. Inilah bibliolatri, Bibliolatri itu bisa baik bisa buruk, yakni merasionalisasi apa yang terjadi dengan rasionalitas dan pengetahuan semata-mata.

Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Muhammad heryanto
Sumber : TIMES Indonesia
Redaksi: redaksi[at]maduratimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]maduratimes.com | marketing[at]maduratimes.com
Top