Museum Batu Mulia Nusantara, Terbesar dengan Koleksi Ratusan Batu Mulia Langka Indonesia

Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir Mohammad Bisri, M. S saat memberikan sambutan dalam peresmian Museum Batu Mulia Nusantara (foto Hendra Saputra/MalangTIMES)
Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir Mohammad Bisri, M. S saat memberikan sambutan dalam peresmian Museum Batu Mulia Nusantara (foto Hendra Saputra/MalangTIMES)

MADURATIMES, MALANGMALANGTIMES - Indonesia patut bangga sebab pertama kalinya perguruan tinggi memiliki ratusan koleksi batuan langka yang tersimpan dalam Museum Batu Mulia Nusantara Pusat Studi Peradaban Univeesitas Brawijaya. Rektor Universitas Brawijaya Malang Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M. S. meresmikan langsung museum tersebut. 

Berdirinya museum batuan mulia tidak lain karena keprihatinan Bisri melihat kekayaan batuan mulia di Indonesia tidak dikelola dengan baik.

Bisri menuturkan bila Inggris telah mendirikan museum yang menyimpan kekayaan batuan alam. Museum Sejarah Alam yang berada di Kota London itu menyimpan batuan jenis langka salah satunya Batu Topaz raksasa seberat 2 kilogram. 

"Indonesia yang kaya akan batu mulia malah tidak punya. Selain di London sewaktu saya berkunjung ke Universitas Nasional Sun Yat Sen mereka memiliki laboratorium batu mulia," tutur Bisri.

Universitas Nasional Sun Yat Sen di Taiwan memiliki laboratorium batu mulia yang canggih dan megah. 

Prasasti Peresmian Museum Batu Mulia Nusantara Universitas Brawijaya (foto Hendra Saputra/MalangTIMES)

Batu Giok Nabire berukuran raksasa seberat tiga kilogram menjadi prasasti berdirinya Museum Batu Mulia Nusantara di Universitas Brawijaya (foto Hendra Saputra/MalangTIMES)

Dilatarbelakangi hal tersebut, Bisri sepakat mendirikan museum batuan mulia bersama-sama dengan berbagai pihak.

"Tentu ini bukan Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya saja, ada banyak pihak yang turut serta. Terima kasih kepada Media Online MalangTIMES (JatimTIMES Group), Komunitas Batu Mulia Garuda Khatulistiwa dan Forum Alumni Pengairan Universitas Brawijaya," ujar Bisri dalam sambutannya dalam Peresmian Museum Batu Mulia Nusantara di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, pada Jumat (18/11/2016).

Sementara itu, Museum Batu Mulia Nusantara memiliki 150 koleksi batu mulia dari berbagai daerah di seantero nusantara. 

Setiap batuan di mesum itu diberi nama. Bentuknya beragam, mulai kecil sampai bongkahan. Beberapa jenis batuan yang tercatat di museum itu seperti Black Jade, Chalcedony, Batu Gambar (Picture Jasper), Jasper, Meteorite Chondrite, Neprite, Sojol, Denrite Agate, fosil kerang kima, dolomite, dan sebagainya.

Sekitar 80 persen jenis batuan yang dipamerkan adalah batuan langka termasuk jenis Giok Nabire yang tersohor karena kandungan mineral dan jenis ini sudah amat langka di nusantara.

Ketua Komunitas Batu Mulia Garuda Khatulistiwa, Rachmat Zakaria menuturkan bila proses pencarian batuan alam itu tidak mudah.

"Ada satu ton batuan yang saya sumbangkan sejak berburu tahun 1997. Dan nantinya akan ada tiga kwintal batu Giok Nabire lagi yang disumbangkan," tutur pria yang akrab disapa Nanang itu.

Selain hibah koleksi batu hasil pencarian Komunitas Batu Mulia Garuda Khatulistiwa, batuan mulia yang dipamerkan juga merupakan hasil riset Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya Malang, ada batu hibah yang diberikan Duta Besar RI untuk Myanmar Dr Ito Sumardi. Namun, jenis batuan yang dihibahkan itu belum diteliti lebih mendalam. (*)

Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]maduratimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]maduratimes.com | marketing[at]maduratimes.com
Top