Kakek Sakit Hernia, Istri Buta, Hidup di ’Kandang’ 1 x 2,5 Meter

Kakek Madun dan Nenek Maryam selama 16 tahun lebih hidup di bilik kecil ukuran 1 x 2,5 meter. Makan dan minum didapat dari uluran tangan para tetangga dan dermawan yang datang. (Foto : Heryanto/MalangTIMES)
Kakek Madun dan Nenek Maryam selama 16 tahun lebih hidup di bilik kecil ukuran 1 x 2,5 meter. Makan dan minum didapat dari uluran tangan para tetangga dan dermawan yang datang. (Foto : Heryanto/MalangTIMES)

MADURATIMES, MALANG – Selasa (6/12/2016) senja itu, sekitar pukul 17.00, rombongan MalangTIMES dipandu aktivis sosial Laily Fitriyah Liza Min Nelly, meluncur ke arah Jalan Muharto. Seperti biasanya, jam-jam seperti itu kondisi jalanan Kota Malang krodit.

Setelah menikmati asyiknya bermacet ria di Malang sekitar 30 menitan, akhirnya rombongan MalangTIMES berhenti di depan Musala Salafiyah, sekitar 500 meter dari Pasar Kebalen dan Klenteng Eng An Kiong.

Oleh masyarakat Malang, kawasan di sekitar Musala Salafiyah tersebut lebih dikenal dengan daerah Cukam, salah satu area terpadat di kota yang saat ini dipimpin Moch. Anton tersebut. Pada jam-jam tertentu Cukam kerap dilanda kemacetan total, karena lokasinya memang berada di pusat kota.

Usai memarkir mobil di depan musala, kami lantas masuk ke Gang Kelinci, gang yang lokasinya berada persis di barat tempat ibadah umat muslim itu.

Gangnya hanya cukup untuk lewat satu sepeda motor saja. Baru melangkah sekitar 15 meter dari mulut gang, kami dibelokkan oleh Nelly ke arah kanan, ke sebuah rumah sederhana.

Nah, kisah memilukan dimulai dari sini. Di sebelah rumah sederhana berlantai dua milik seseorang yang oleh warga sekitar akrab dipanggil Mbak Lis tersebut, terdapat sebuah bilik.

Ukuran biliknya hanya sekitar 1 meter x 2,5 meter. Sedangkan tinggi biliknya sekitar 1,5 meter. Bilik yang dindingnya terbuat dari triplek dan atapnya dari seng itu lazimnya seukuran dengan kandang lima ekor kambing.

Namun bilik ini bukan untuk kandang kambing. Tapi untuk hidup sepasang kakek-nenek. Si kakek bernama Madun kelahiran 1924, dan nenek bernama Mariam kelahiran 1927 an.

Pasangan yang beberapa tahun lagi usianya hampir mencapai satu abad itu hidup di tempat kecil tersebut sejak 14 tahun lalu.

Di bilik yang menyerupai kandang, ada dipan berukuran 1 meter x 2 meter yang di atasnya terdapat kasur kapuk. Ada seprei coklat kusam yang melapisinya. Entah sudah berapa tahun seprei tersebut tak dicuci. Terdapat juga dua bantal yang tak dilapisi sarung.

Di sebelah dipan, terdapat sebuah meja kecil yang di atasnya ada segelas teh yang sudah terminum separo, kaleng biskuit, kopiah hitam kusam, Alquran, dan beberapa barang kecil lainnya. Di bawah dipan terdapat sebuah wadah sejenis baskom. Baskom ini digunakan untuk meludah Kakek Madun.

Tak ada lemari. Untuk menaruh bajunya, pasangan renta tersebut cukup dihanger dan digantungkan di dinding. Terlihat beberapa baju batik Kakek Madun dan beberapa helai daster Nenek Mariam.

Kakek jarang menggunakan baju, sedangkan Nenek Mariam jarang berganti pakaian. Maklum, untuk mencuci pakaian mereka kesulitan.  

Satu-satunya penerangan adalah lampu neon redup yang saluran listriknya menyambung adri rumah Mbak Lis. Suasananya benar-benar temaram.

Saat rombongan MalangTIMES mengunjungi bilik Cukam, terdengar suara rintihan dari Kakek Madun yang hanya mengenakan sarung (tak menggunakan baju maupun celana dalam).

Kami bisa melihatnya langsung, karena waktu itu, pintu bilik yang terbuat dari triplek tidak tertutup. Pintu bilik itu berbentuk seperti lemari es dua pintu. Ketika itu, satu pintu bagian atas terbuka, sedangkan bagian bawahnya tertutup.

Ketika kami melongok melalui pintu yang terbuka, mereka tak menyadari kehadiran kami. Nanek Mariam yang menggunakan daster biru kusam terlihat dengan sabar mengelus-ngelus dan mengipasi Kakek Madun yang terus merintih karena menahan sakit. Ya, sejak beberapa tahun lalu, menurut warga setempat Kakek Madun mengidap hernia.

Nenek Mariam sendiri tak bisa melihat kehadiran kami, karena dia bisa dibilang buta. Akibat penyakit kataraknya yang tak segera diobati, dia kini bisa dibilang mengalami kebutaan total.

Untuk mengambil sesuatu, nenek harus meraba-raba. Baik tubuh si kakek maupun nenek sama-sama kurusnya. Bisa dibilang, kulit yang menempel tubuhnya ada hanya sekadar untuk menutupi tulang-tulangnya.

Kisah kakek-nenek yang hidup di ’kandang’ ini akan dibuat secara berseri oleh MalangTIMES. Bagi pembaca yang tertarik membaca kisah serial pasangan renta yang hidupnya pilu ini bisa membaca di serial berikutnya.

Dan alangkah baiknya, setelah membaca kisah ini, pembaca tergetar dan ikut peduli dengan kisah Kakek Madun dan Nenek Mariam.

Pewarta : Aditya Fachril Bayu
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Abdul Rahman
Sumber : Malang TIMES
  • Mensos Jamin Perluasan PKH Tepat Sasaran

    Sedikitnya 22.528 keluarga di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat menerima bansos PKH non tunai dengan memanfaatkan teknologi perbankan.

  • BlitarTIMES Wakili Blitar dalam Acara Horti Asia di Thailand

    BlitarTIMES, media online mainstream nomor 1 di Blitar akan berpartisipasi dalam acara Horti Asia di Bangkok Thailand pada 15-18 Maret 2017.

  • Mensos Kutuk Aksi Biadab Predator Anak di Sorong

    "Sangat pantas pelakunya dihukum mati. Ini bagian dari penjeraan kepada para predator seksual anak dan peringatan bagi siapapun yang melakukan pola dan tindakan sadis dan keji semacam itu," ungkap Khofifah, Jum'at (13/1).

  • Kiper Arema FC, Achmad Kurniawan Tutup Usia

    Publik sepak bola tengah berduka dengan kabar meninggalnya kiper gaek Arema FC, Ahmad Kurniawan. Kakak kandung dari Kurnia Meiga Hermansyah itu diketahui telah tiada pada Selasa (10/1/2017) sore.

  • Dipenghujung 2016, Mensos Luncurkan e-Warong KUBE PKH di Kota Bekasi

    Pemerintah melalui Kementerian Sosial terus berupaya untuk memaksimalkan kehadiran elektronik warung gotong royong KUBE PKH atau biasa dikenal e-warong KUBE PKH. Di penghujung tahun 2016, Kota Bekasi terpilih menjadi kota terakhir peluncuran E-Warong KUBE

  • Museum Seni Islam Hadir di Lamongan

    Ingin tahu tentang sejarah dan peninggalan seni Islami dari berbagai penjuru dunia ? Di Lamongan telah hadir Museum Seni Islam Indonesia yang terletak di Wisata Bahari Lamongan.

  • Hujan Tiap Hari, Kelinci Peternak Rawan Mati

    Hujan yang turun setiap hari dalam durasi yang relatif lama membuat peternak kelinci di Kota Batu kelimpungan. Suhu dingin, lembab dan makanan yang basah membuat kelinci sakit dan banyak yang mati.

  • Tari Sarung, Simbol Rukun dan Toleran Islam Nusantara

    Pertunjukkan bertajuk Parade Islam Nusantara menjadi grand opening Batu International Islamic Tourism (BIIT) 2016. Acara berlangsung Jumat (2/12/2016) malam pukul 19.00 hingga 23.00 di Stadion Brantas Kota Batu.

  • Tiket Jatim Park saat Weekend Naik, Hari Biasa Diskon 30 Persen

    Pengelola Jatim Park Group sebagai pemilik wahana wisata buatan di Kota Batu menaikkan harga tiket masuk mulai 1 Desember 2016. Kenaikan tiket berkisar mulai Rp 5 ribu hingga 15 ribu per tiket.

  • Tenaga Konstruksi Bersertifikat Indonesia Minim, Terancam Pekerja Asing

    Pekerja asli Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi terancam eksistensinya. Bakan, jika tak segera diantisipasi, para pekerja konstruksi Indonesia bisa kehilangan mata pencariannya. Ancaman tersebut terjadi karena sampai saat ini hanya sedikit peker

  • Museum Batu Mulia Nusantara, Terbesar dengan Koleksi Ratusan Batu Mulia Langka Indonesia

    Indonesia patut bangga sebab pertama kalinya perguruan tinggi memiliki ratusan koleksi batuan langka yang tersimpan dalam Museum Batu Mulia Nusantara Pusat Studi Peradaban Univeesitas Brawijaya. Rektor Universitas Brawijaya Malang Prof. Dr. Ir. Mohammad B

  • Direktur JatimTIMES: Saya Bangga Indonesia Punya Museum Batu Mulia

    Museum Batu Mulia Nusantara yang berada di Universitas Brawijaya (UB) Malang tak lain atas inisiasi Media Online Terbesar di Indonesia JatimTIMES.

Redaksi: redaksi[at]maduratimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]maduratimes.com | marketing[at]maduratimes.com
Top