Pondok Pesantren Rajut Asa Pecandu Narkoba (2)

Kekuatan Doa dan Kehangatan Keluarga Pesantren, Pecandu Lepas dari Jerat Narkoba

Mantan pengguna narkoba, EJ memilih menjadi santri di Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang (foto: Yogi Iqbal/MalangTIMES)
Mantan pengguna narkoba, EJ memilih menjadi santri di Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang (foto: Yogi Iqbal/MalangTIMES)

MADURATIMES, MALANG – Mentari beranjak terbenam ketika MalangTIMES berkunjung ke pondok pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh di kawasan Joyo Grand Tlogomas Kota Malang. Dari pintu gerbang, kira-kira 15 menit tibalah kami di pondokan pecandu narkoba. Terdapat pagar yang memisahkan dengan bangunan ponpes. Di dalam areal khusus itu, berdiri masjid cukup luas. Di area itu pula disediakan rumah-rumah sederhana untuk keluarga yang ingin menginap. 

Area pondokan bagi pecandu narkoba terletak di seberang masjid. Melangkah masuk, rak-rak sepatu tersusun rapi di depan pintu kaca. Kami pun masuk. Sore itu, mereka sedang membersihkan kamar. Kamar yang mereka tempati mampu menampung hingga sepuluh orang. Ruangan itu dilengkapi tempat tidur beserta almari bagi masing-masing orang. Di pojok ruangan berdiri EJ. Tingginya sekitar 173 sentimeter. EJ memakai baju koko lengan pendek warna putih yang kontras dengan kulitnya yang sawo matang. 

EJ datang dari Lombok. Ia baru menginjakkan kaki sekitar satu bulan di Ponpes Bahrul Maghfiroh. "Saya dari Lombok Barat. Baru sebulan disini. Dahulu pakai narkotika karena pengaruh pergaulan di SMP. Pakai shabu-shabu dan ganja. Pernah saya dipenjara selama satu tahun. Tapi ya itu tetap makai. Kalau overdosis dulu pernah pas SMA sampai dirawat selama tiga hari di rumah sakit," cerita pria berusia 24 tahun ini. 

Sore itu, tak ada aktivitas berarti yang EJ lakukan. Menurutnya, waktu tersebut dipakai para mantan pecandu untuk aktivitas bebas. EJ pun memilih bermain tenis meja. Di areal pondokan, ada ruang serba guna. Di sanalah para pecandu yang kini berubah menjadi santri melakukan berbagai kegiatan terutama berolahraga. "Ada juga musik tapi ruangan masih diperbaiki," kata dia. 



Baru sebulan di ponpes, EJ mengaku batinnya tenang. Sorot matanya berbinar. Kebahagiaan seolah terpancar dari dirinya. Dia tak mau lagi mengulangi kesalahan. EJ menggeleng-gelengkan kepala ditanya masih maukah memakai narkoba. "Enggak mau lagi," ucapnya. 

Pintu taubat digapai EJ dengan kesungguhan. "Saya merasa disini suasana kekeluargaan. Saya merasa tidak sendiri. Itulah yang membuat saya bisa tidak mau lagi pakai. Tidak tidak mau lagi," tegasnya.

Di lingkungan ponpes kekeluargaan mereka bangun dengan banyak cara. Mereka melakoni kegiatan sharing atau berbagi pengalaman. Disana mereka berbagi keluh kesah tentang berbagai hal terutama kisah kelam. Momen ini terjadwal yakni pada pagi hari dan lepas salat Isya. Narkoba membuat belasan dari mereka harus rela terpisah dari sanak keluarga. Terasing dari pergaulan. Di ponpes Bahrul Maghfiroh lah mereka seolah merengkuh kembali kehangatan sebuah keluarga.

EJ tidak sendiri. Ada 18 mantan pecandu yang nyantri di Ponpes Bahrul Maghfiroh. HR bahkan nyaris menyerah. Pria asal Banjarmasin itu bolak-bolak masuk panti rehabilitasi. Hasilnya nihil. Jalan sembuh HR adalah mendekat pada Allah SWT di lingkungan pondok pesantren. 

"Saya pakai pil, shabu-shabu, ditambah juga kecanduan alkohol. Sudah tiga kali masuk panti rehabilitasi tapi ternyata tetap saja makai. Akhirnya sempat mau nyerah sampai sama orangtua dikirim ke Malang. Disini saya nyaman karena diajari mengaji dan dengan doa-doa yang dibaca pak Ustad alhamdulillah tidak pernah merasakan sakit lagi," terang pria berusia 20 tahun itu.

Pondokan khusus bagi pecandu narkoba merupakan bentuk kerjasama Ponpes Bahrul Maghfiroh dengan Kementerian Sosial. Pesantren yang didirikan almarhum KH Lukman Al Karim itu ditunjuk sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Penunjukkan ponpes Bahrul Maghfiroh lantaran sejak tahun 1995 pondok tersebut berhasil menyembuhkan pengguna narkoba. 

Apa metode yang dipakai? Selain mengaji dan berdoa kepada Allah SWT mereka punya obat sederhana tapi mujarab membuat pecandu berhenti gunakan narkotika.

Simak ulasan menarik tentang kisah pecandu narkoba nyantri di pondok pesantren hanya di MalangTIMES. (*)

Pewarta : Wahida Rahmania Arifah
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]maduratimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]maduratimes.com | marketing[at]maduratimes.com
Top