Sanksi Turun, Yuli Sumpil Dilarang Masuk Stadion Seumur Hidup

Barisan Kepolisian saat mengamankan pemain karena banyak Aremania turun ke lapangan usai pertandingan Arema FC menghadapi Persebaya (Hendra Saputra)
Barisan Kepolisian saat mengamankan pemain karena banyak Aremania turun ke lapangan usai pertandingan Arema FC menghadapi Persebaya (Hendra Saputra)

MADURATIMES, MALANG – Sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI telah jatuh untuk Arema FC. Iwan Budianto (CEO Arema FC) anggap sanksi tersebut cukup berdampak bagi kelangsungan hidup timnya. 

Tiga item sudah resmi diputuskan komdis untuk sanksi Arema FC. Pertama adalah tanpa penonton di kandang dan larangan suporter tandang hingga akhir musim, kedua denda sebesar Rp. 100.000.000 dan terakhir dua suporter, Yuli Sumpil dan Fandy dilarang masuk stadion di Indonesia seumur hidup. 

Secara prinsip, Arema FC telah menerima sanksi yang diberikan komdis PSSI. Namun secara objektif hukuman ini akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup klub hingga karyawan. 

"Tidak hanya bagi klub yang kehilangan dukungan dari Aremania di saat  posisi Arema FC di klasemen masih berada di posisi yang mengkhawatirkan, Klub juga kehilangan pendapatan, tentu akan berpengaruh terhadap operasional kelangsungan hidupnya. Tidak hanya pemain dan official, tapi nasib karyawan juga akan terdampak," tuturnya.

Tak hanya itu, sanksi tersebut juga akan dirasakan masyarakat kecil yang biasanya meraup keuntungan dari pertandingan Arema FC. "Imbasnya bagi pelaku usaha kecil seperti asongan, pedagang kaki lima yang mendapat rejeki saat pertandingan. Efek lainnya yakni pada sisi kontribusi penerimaan pajak daerah yang juga akan terhambat," sambungnya. 

Namun, lanjut IB, Arema FC sebuah klub yang menjunjung tinggi integritas sepakbola itu sendiri. Bahwa setiap upaya penegakan regulasi harus dihormati dan dipatuhi. Dan pelanggaran berat yang sudah siap diterima apapun konsekuensinya. 

Selain itu, hukuman yang dikenakan bagi Arema FC dan Aremania diharapkan menjadi momentum perubahan perilaku positif bagi semua elemen sepakbola di Indonesia, tidak hanya klub, panpel, tapi juga suporter. 

"Jangankan dihukum sampai akhir musim, Sejujurnya Arema FC ikhlas jika harus dihukum 10 tahun tanpa penonton dan sanksi lainnya, asalkan mampu membawa revolusi perubahan perilaku positif bagi suporter Indonesia. Kami siap menjadi martir perubahan kebaikan dalam sepakbola kita," paparnya. 

Oleh karena itu, Arema FC menegaskan bahwa akan menjalani hukuman ini dengan tegak kepala dan menjadi cambuk untuk perubahan, agar semua patuh terhadap penegakan regulasi. "Kami tidak akan mengajukan banding. Namun akan berada di barisan terdepan untuk membangun kesadaran para suporter utamanya Aremania agar berubah menjadi lebih baik," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, IB tetap memohon agar Aremania introspeksi diri, terpenting tetap menjaga keutuhan dan persatuan antar Aremania. "Jadikan perenungan massal. Dan jadikan momentum ini untuk berubah dalam sikap dan berperilaku yang baik dalam mendukung tim kebanggaan," katanya.

Terakhir IB meminta semua pihak tidak merespon dan mereaksi negatif atas keputusan Komdis PSSI, termasuk bijak menanggapinya di media sosial.

"Hentikan perdebatan. Tapi yang perlu adalah bangkit bersatu untuk berubah lebih baik. Jika perlu harus lebih sering bertemu berdiskusi berbicara dari hati ke hati agar kejadian serupa tidak terjadi dan tidak diulang lagi di masa yg akan datang" pungkasnya.

Pewarta : Hendra Saputra
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]maduratimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]maduratimes.com | marketing[at]maduratimes.com
Top