Perayaan Imlek 2019, Tagar TerimakasihGusDur Diramaikan Warganet

Gus Dur dikenal sebagai Bapak Tionghoa Indonesia. (@twitter)
Gus Dur dikenal sebagai Bapak Tionghoa Indonesia. (@twitter)

MADURATIMES, MALANG – Tahun baru Imlek selalu menjadi hari yang paling dinanti oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Terlebih, dalam catatan sejarah, perayaan Imlek di Indonesia sempat dilarang keras dalam masa yang cukup lama.

Hingga akhirnya pada awal 2000, Presiden keempat Indonesia keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut segala peraturan bagi warga Tionghoa. Hingga akhirnya, sejak saat itu, segala jenis kebudayaan warga Tionghoa di Indonesia kembali menggeliat.

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China.

Kemudian pada 19 Januari 2001, menteri agama mengeluarkan keputusan Nomor 13 Tahun 2001 tentang penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional fluktuatif atau berlaku bagi yang merayakan. Sejak saat itu, warga Tionghoa di Indonesia merasa haknya sebagai warga negara dikembalikan. Mereka pun memanggil Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa Indonesia.

Dalam setiap perayaan Imlek, warga Tionghoa di Indonesia tampaknya terus mengingat setiap jasa sosok Gus Dur. Dalam perayaan Imlek tahun 2019 ini, warganet bahkan berbondong-bondong meramaikan tagar #TerimakasihGusDur di Twitter.

"Gu Dur dianggap sangat berjasa. Meski menjabat sebagai Presiden hanya sebentar. Tapi keputusannya membawa perubahan bagi pluralisme di Indonesia. Tak heran sampai sekarang namanya masih diperbincangkan dan dirindukan banyak orang #TerimakaaihGusDur," cuit @finallyvalen, Selasa (5/2/2019).

"Tidak bisa membayangkan menjalani hidup sebagai masyarakat Tionghoa yang selama 30 tahun seolah terpasung, tidak bisa merasakan nikmatnya perayaan Imlek secara bebas. Kemudian Gus Dur memberikan banyak pembaharuan," tambah @fevtrisjahir sembari menambahkan #TerimakasihGusDur.

"Sebelumnya selama puluhan tahun, penganut Kong Hu Cu tak bisa sepenuhnya mengklaim hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia, karena agamanya tak diakui. Di masa Gus Dur lah penganut Kong Hu Cu mendapatkan hak-hak asasi mereka #TerimakasihGusDur," tulis @AnnaTasya97.

Sampai saat ini, setidaknya sudah hampir 1.500 cuitan di Fwitter yang menuliskan tagar #TerimakasihGusdur. Putri Gus Dur, Alisa Wahid, juga meretweet beberapa cuitan yang ditulis warganet. 

 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]maduratimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]maduratimes.com | marketing[at]maduratimes.com
Top